Ketika mendengar istilah gangguan makan, banyak orang langsung mengira masalah ini hanya berkaitan dengan pola makan atau berat badan. Padahal, gangguan makan merupakan salah satu bentuk masalah kesehatan mental yang serius dan dapat berdampak besar pada kesehatan fisik maupun psikologis seseorang, terutama pada remaja.
Gangguan makan bukan sekadar soal “tidak mau makan” atau “terlalu menjaga bentuk tubuh”. Di balik perilaku tersebut, sering kali terdapat tekanan emosional, rasa cemas, rendahnya kepercayaan diri, hingga perasaan tidak berharga. Kondisi ini membuat seseorang menggunakan makanan sebagai cara untuk mengontrol perasaan dan situasi yang dirasakannya.
Baca juga: Isu Kesehatan Mental Pada Remaja
WHO menyebutkan kasus gangguan makan diperkirakan sekitar 0,1% pada anak usia 10–14 tahun dan meningkat menjadi 0,4% pada usia 15–19 tahun. Gangguan makan juga memiliki kaitan dengan risiko bunuh diri. Anoreksia nervosa, khususnya, dapat menyebabkan kematian dini akibat komplikasi medis maupun bunuh diri, serta memiliki angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan gangguan mental lainnya.
Apa itu Anoreksia Nervosa dan Bulimia Nervosa?

Gangguan makan, seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa, umumnya mulai terjadi pada masa remaja hingga dewasa muda. Kondisi ini ditandai oleh pola makan yang tidak sehat serta perhatian berlebihan terhadap makanan, yang sering disertai kecemasan mengenai berat badan dan bentuk tubuh.
Gangguan makan lebih banyak dialami oleh anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. Selain berdampak pada kesehatan fisik, gangguan ini sering muncul bersamaan dengan masalah kesehatan mental lain, seperti depresi, kecemasan, dan gangguan penggunaan zat.
Anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang ditandai dengan ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan dan keinginan kuat untuk menjadi sangat kurus. Penderitanya cenderung membatasi makan secara ekstrem, meskipun berat badannya sudah jauh di bawah normal. Mereka sering memiliki pandangan yang keliru terhadap bentuk tubuh dan tetap merasa “gemuk” meski sebenarnya sangat kurus.
Gejala anoreksia nervosa antara lain:
- Mengurangi makan secara drastis atau menolak makan
- Berat badan sangat rendah dibandingkan usia dan tinggi badan
- Terobsesi pada kalori, diet, dan timbangan
- Merasa cemas atau bersalah setelah makan
- Tubuh mudah lelah, pusing, rambut rontok, dan gangguan menstruasi

Bulimia nervosa ditandai dengan pola makan berlebihan dalam waktu singkat yang kemudian diikuti dengan perilaku untuk mencegah kenaikan berat badan, seperti memuntahkan makanan, penggunaan obat pencahar, atau olahraga berlebihan. Berbeda dengan anoreksia, berat badan penderita bulimia sering kali tampak normal, sehingga gangguan ini lebih sulit dikenali.
Gejala bulimia nervosa antara lain:
- Makan dalam jumlah besar secara tidak terkendali
- Merasa kehilangan kontrol saat makan
- Memuntahkan makanan atau menggunakan cara ekstrem setelah makan
- Rasa bersalah, malu, atau menyesal setelah episode makan berlebihan
- Sakit tenggorokan, gigi rusak, dan gangguan pencernaan
Baca juga: Ketahui 5 Manfaat Air Kelapa untuk Kehamilan
Catatan Sehat: Gangguan makan bukan sekadar masalah pola makan, melainkan persoalan kesehatan mental yang nyata dan serius. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk lebih peka, tidak menghakimi, dan saling mendukung dalam menciptakan lingkungan yang aman dan peduli terhadap kesehatan mental.




